Wednesday, March 24, 2010

Hati-hati, Pembalut Berbahan Dioksin Berbahaya

Dikutip dari harian JOGLOSEMAR, Selasa 2 Maret 2010

Selasa, 02/03/2010 09:00 WIB - Ikrob Didik Irawan

Menstruasi atau haid adalah salah satu gejala alami yang dialami setiap perempuan, yang ditandai dengan munculnya flek berupa darah kotor yang keluar dari mulut vagina. Umumnya setiap perempuan akan mengalami ketidaknyamanan fisik selama proses menstruasi.
Pada saat menstruasi terdapat banyak pilihan pembalut yang bisa digunakan dan dijual bebas. Sehingga benda yang satu ini sepertinya sudah menjadi kebutuhan pokok kaum hawa. Tanpa pembalut, bisa dibayangkan betapa repotnya ketika datang masa menstruasi.
Namun demikian, para perempuan harus ekstra hati-hati dalam memilih pembalut yang tepat dan sehat. Karena penggunaan pembalut secara sembarangan bisa memicu terjadinya infeksi bahkan kanker mulut rahim. Perlu diketahui, tidak semua pembalut aman digunakan, apalagi bagi yang mempunyai daerah “V” yang sensitif terhadap bahan pakaian dalam atau pembalut tertentu. Bisa-bisa jika salah memilih bahan malah terkena berbagai penyakit seperti berbau, gatal-gatal, keputihan, dan lainnya.
“Masalah umum yang sering dijumpai karena infeksi bakteria selama menstruasi adalah demam, radang pada permukaan vagina, gatal-gatal pada kulit, radang vagina, radang serviks (leher mulut rahim), radang selaput rahim, keputihan, hingga rasa panas atau sakit pada bagian bawah perut,” ujar dr Mohammad Narsun MARS, konsultan salah satu produsen pembalut di Malaysia dalam seminarnya Wanita Indonesia Bebas dari Kanker Serviks beberapa waktu lalu.
Beberapa penelitian yang pernah dilakukan menyebutkan, terdapat 107 bakteri per milimeter persegi di atas pembalut wanita biasa. Kondisi inilah yang membuat pembalut yang tidak sehat menjadi sumber sarang pertumbuhan bakteri merugikan, meski pembalut biasa hanya dipakai selama dua jam saja. Bayangkan, jumlah bakteri pada permukaan seluas pembalut tersebut, apalagi jika dipakai lebih dari dua jam.
“Kebanyakan pembalut wanita menggunakan bahan-bahan kimia yang berbahaya bagi penggunanya dan mengakibatkan berbagai penyakit dalam sistem reproduksi wanita,” ujar Nasrun.
Bahan Kimia
Biasanya bahan kimia yang terkandung di dalam pembalut menurut Nasrun, adalah dioksin (bahan beracun kimia) yaitu bahan yang biasa digunakan sebagai pemutih kertas atau sejenisnya. Pembalut yang mengandung dioksin sering menyebabkan bagian intim organ kewanitaan selalu mengalami masalah, seperti keputihan, gatal-gatal, iritasi, juga pemicu terjadinya kanker mulut rahim.
Apabila pembalut yang mengandung zat dioksin terkena darah menstruasi (darah yang kotor dan mengandung bakteri atau kuman) dan mengenai permukaan vagina, maka zat-zat tersebut diisap masuk ke dalam rahim melalui saluran serviks, selanjutnya masuk ke dalam uterus, tuba fallopi dan berakhir di ovarium. Selanjutnya bersama aliran darah menuju ke organ-organ tubuh lainnya.
Bagian pertama yang akan terkena kontak langsung dengan pembalut tadi yakni permukaan vagina (vulva). Itulah sebabnya, pada area yang paling banyak terpapar dioksin ini, sering menjadi masalah bagi perempuan. “Karena memang faktanya, pembalut biasa yang menjadi sahabat perempuan (terutama saat haid), justru berpotensi menjadi pemicu munculnya berbagai persoalan pada organ kewanitaan,” tegas Nasrun.
Cara sederhana yang dapat dilakukan untuk mengetahui kandungan dioksin dalam pembalut adalah dengan mencelupkannya ke dalam air. Caranya, sobek pembalut yang biasa digunakan, ambil bagian inti di dalamnya. Kemudian, ambil segelas air putih menggunakan gelas transparan sehingga lebih jelas. Kemudian ambil sebagian dari lembaran inti pembalut dan celupkan ke dalam gelas dan diaduk. Amati perubahan warna air yang terjadi, jika hancur disertai dengan warna yang keruh bisa jadi pembalut tersebut mengandung bahan pemutih.
Pembalut yang baik dan aman adalah yang menggunakan bahan 100 persen dari kapas. Mengingat pembalut yang banyak beredar di pasaran diduga berbahan dasar dari kertas-kertas bekas yang kemudian diolah dan dicampur berbagai zat kimia sehingga warnanya menjadi putih bersih. “Pilih kualitas pembalut yang baik dan disesuaikan dengan kondisi tubuh. Disarankan tidak memilih pembalut yang mengandung bahan penghilang bau atau pewangi yang kadang justru menyebabkan alergi dan iritasi,” imbaunya. (Ikrob Didik Irawan)

No comments:

Post a Comment